Video For health

Loading...

Rabu, 14 Desember 2011

ASKEP atresia ani


BAB I

PENDAHULUAN


    I.I            Latar Belakang

Atresia berasal dari bahasa Yunani, a artinya tidak ada, trepis artinya nutrisi atau makanan. Dalam istilah kedokteran atresia itu sendiri adalah keadaan tidak adanya atau tertutupnya lubang badan normal atau organ tubular secara kongenital disebut juga clausura. Dengan kata lain tidak adanya lubang di tempat yang seharusnya berlubang atau buntunya saluran atau rongga tubuh, hal ini bisa terjadi karena bawaan sejak lahir atau terjadi kemudian karena proses penyakit yang mengenai saluran itu. Atresia dapat terjadi pada seluruh saluran tubuh, misalnya atresia ani. Atresia ani yaitu tidak berlubangnya dubur. Atresia ani memiliki nama lain yaitu anus imperforata. Jika atresia terjadi maka hampir selalu memerlukan tindakan operasi untuk membuat saluran seperti keadaan normalnya.

 I.II            Tujuan Penulisan

A.    Tujuan Umum

Agar mahasiswa dapat memberikan asuhan keperawatan pada anak dengan gangguan sistem pencernaan atresia ani.

B.     Tujuan Khusus

·         Agar mahasiswa dapat memahami pengertian tentang atresia ani.
·         Agar mahasiswa dapat mamahami asuhan keperawatan atresia ani dengan benar.
·         Agar mahasiswa dapat memahami tanda dan gejala atresia ani.
·         Agar mahasiswa dapat mengetahui patofisiologi atresia ani.

I.III            Sistematika Penulisan

BAB I PENDAHULUAN
I.I Latar Belakang
I.II Tujuan Penulisan
A.    Tujuan Umum
B.     Tujuan Khusus
I.III Sistematika Penulisan
BAB II TINJAUAN TEORI
II.I Pengertian
II.II Etiologi
II.III Patofisiologi
II.IV Tanda dan gejala
II.V Penatalaksanaan
II.VI Komplikasi
II. VII Pemeriksaan penunjang
BAB III ASKEP
BAB IV PENUTUP
Terdiri dari kesimpulan.


BAB II

TINJAUAN TEORI


II.I             Pengertian

Atresia ani (malformasi anorektal/anus imperforate) adalah bentuk kelainan bawaan yang menunjukan keadaan tidak ada anus, atau tidak sempurnanya bentuk anus.
Atresia Ani / Atresia Rekti adalah ketiadaan atau tertutupnya rectal secara congenital (Dorland, 1998).
Suatu perineum tanpa apertura anal diuraikan sebagai imperforata. Ladd dan Gross (1966) membagi anus imperforata dalam 4 golongan, yaitu:
1.      Stenosis rectum yang lebih rendah atau pada anus
2.      Membran anus menetap
3.      Anus imperforata dan ujung rectum yang buntu terletak pada bermacam-macam jarak dari perineum
4.      Lubang anus yang terpisah dengan ujung rectum yang buntu
            Pada golongan 3 hampir selalu disertai fistula, pada bayi wanita yang sering ditemukan fistula rektovaginal (bayi buang air besar lewat vagina) dan jarang rektoperineal, tidak pernah rektobrinarius. Sedang pada bayi laki-laki dapat terjadi fistula rektourinarius dan berakhir dikandung kemih atau uretra serta jarang rektoperineal.
Bentuk-bentuk kelainan atresia ani:
1.      Lubang anus sempit atau salah letak di depan tempat semestinya.
2.      Terdapat selaput pada saat pembukaan anus sehingga mengganggu proses pengeluaran feses.
3.      Rektum (saluran akhir usus besar) tidak terhubung dengan lubang anus.
4.      Rektum terhubung dengan saluran kemih (kencing) atau sistem reproduksi melalui fistula (lubang), dan tidak terdapat pembukaan anus.

II.II                      Etiologi

Atresia dapat disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain:
1.      Putusnya saluran pencernaan dari atas dengan daerah dubur sehingga bayi lahir tanpa lubang dubur.
2.      Kegagalan pertumbuhan saat bayi dalam kandungan berusia 12 minggu/3 bulan.
3.      Adanya gangguan atau berhentinya perkembangan embriologik didaerah usus, rektum bagian distal serta traktus urogenitalis, yang terjadi antara minggu keempat sampai keenam usia kehamilan.

II.III                   Patofisiologi

Terjadinya anus imperforata karena kelainan congenital dimana saat proses perkembangan embrionik tidak lengkap pada proses perkembangan anus dan rectum. Dalam perkembangan selanjutnya ujung ekor dari belakang berkembang jadi kloaka yang juga akan berkembang jadi genitor urinary dan struktur anoretal.
Atresia ani ini terjadi karena tidak sempurnanya migrasi dan perkembangan kolon antara 7-10 minggu selama perkembangan janin. Kegagalan tersebut terjadi karena abnormalitas pada daerah uterus dan vagina, atau juga pada proses obstruksi. Anus imperforate ini terjadi karena tidak adanya pembukaan usus besar yang keluar anus sehingga menyebabkan feses tidak dapat dikeluarkan.

II.IV                   Tanda dan Gejala

Gejala yang menunjukan terjadinya atresia ani atau anus imperforata terjadi dalam waktu 24-48 jam setelah kelahiran. Gejala itu dapat berupa:
1.      Perut kembung.
2.      Mekonium keluar dari vagina (untuk wanita), harap dicurigai atresia ani.
3.      Mekonium tidak keluar dalam 24 jam pertama setelah kelahiran
4.      Muntah (cairan muntahan berwarna hijau karena cairan empedu atau berwarna hitam kehijauan ).
5.      Bayi tidak bisa buang air besar .
6.      Tidak ada atau tampak kelainan anus
Untuk mengetahui kelainan ini secara dini, pada semua bayi baru lahir harus dilakukan colok anus dengan menggunakan termometer yang dimasukkan sampai sepanjang 2 cm ke dalam anus. Atau dapat juga dengan jari kelingking yang memakai sarung tangan. Jika terdapat kelainan, maka termometer atau jari tidak dapat masuk. Bila anus terlihat normal dan penyumbatan terdapat lebih tinggi dari perineum.

II.V                      Penatalaksanaan

1.      Penatalaksanaan Medis
a.       Kolostomi (pembuatan lubang anus di bagian perut)
b.      Dilatasi Anal (pelebaran lubang anus)
c.       Eksisi membran anal (pelepasan selaput anus)
d.      Anoplasty (perbaikan organ anus)
2.      Penatalaksanaan Non Medis
Kepada orang tua perlu diberitahukan mengenai kelainan pada anaknya dan keadaan tersebut dapat diperbaiki dengan jalan operasi. Operasi akan dilakukan 2 tahap yaitu tahap pertama hanya dibuatkan anus buatan dan setelah umur 3 bulan dilakukan operasi tahapan ke 2, selain itu perlu diberitahukan perawatan anus buatan dalam menjaga kebersihan untuk mencegah infeksi. Serta memperhatikan kesehatan bayi.
3.      Penanganan secara preventif antara lain:
a.       Kepada ibu hamil hingga kandungan menginjak usia tiga bulan untuk berhati-hati terhadap obat-obatan, makanan awetan dan alkohol yang dapat menyebabkan atresia ani.
b.      Memeriksa lubang dubur bayi saat baru lahir karena jiwanya terancam jika sampai tiga hari tidak diketahui mengidap atresia ani karena hal ini dapat berdampak feses atau tinja akan tertimbun hingga mendesak paru-parunya.
c.       Pengaturan diet yang baik dan pemberian laktulosa untuk menghindari konstipasi.

II.VI                   Komplikasi

Komplikasi yang dapat terjadi pada penderita atresia ani antara lain :
1.      Asidosis hiperkioremia.
2.      Infeksi saluran kemih yang bisa berkepanjangan.
3.      Kerusakan uretra (akibat prosedur bedah).
4.      Komplikasi jangka panjang.
a.       Eversi mukosa anal
b.      Stenosis (akibat kontriksi jaringan perut dianastomosis)
5.      Masalah atau kelambatan yang berhubungan dengan toilet training.
6.      Inkontinensia (akibat stenosis awal atau impaksi).
7.      Prolaps mukosa anorektal.
8.      Fistula kambuan (karena ketegangan diare pembedahan dan infeksi) (Ngustiyah, 1997 : 248)

II.VII                Pemeriksaan Penunjang

Untuk memperkuat diagnosis sering diperlukan pemeriksaan penunjang sebagai berikut :
1.      X-ray, ini menunjukkan adanya gas dalam usus
2.      Pemeriksaan urin, perlu dilakukan untuk mengetahui apakah terdapat mekonium
3.      Pemeriksaan radiologis. Dilakukan untuk mengetahui ada tidaknya obstruksi intestinal.
4.      Sinar X terhadap abdomen. Dilakukan untuk menentukan kejelasan keseluruhan bowel dan untuk mengetahui jarak pemanjangan kantung rectum dari anus.
5.      Ultrasound terhadap abdomen. Digunakan untuk melihat fungsi organ internal terutama dalam system pencernaan dan mencari adanya faktor reversible seperti obstruksi oleh karena massa tumor.
6.      CT Scan. Digunakan untuk menentukan lesi.
7.      Pemeriksaan fisik rectum. Kepatenan rectal dapat dilakukan colok dubur dengan menggunakan selang atau jari.
8.      Rontgenogram abdomen dan pelvis. Juga bisa digunakan untuk mengkonfirmasi adanya fistula yang berhubungan dengan traktus urinarius.















BAB III

ASUHAN KEPERAWATAN


III.I                      Pengkajian

1.      Biodata klien
2.      Riwayat kesehatan
a.       Keluhan utama
b.      Riwayat kesehatan sekarang
c.       Riwayat kesehatan masa lalu
d.      Riwayat kesehatan keluarga
3.      Riwayat psikologis
Koping keluarga dalam menghadapi masalah
4.      Riwayat tumbuh kembang
a.       BB lahir abnormal
b.      Kemampuan motorik halus, motorik kasar, kognitif dan tumbuh kembang pernah mengalami trauma saat sakit
c.       Sakit kehamilan mengalami infeksi intrapartal
d.      Sakit kehamilan tidak keluar mekonium
5.      Riwayat sosial
Hubungan sosial
6.      Pemeriksaan fisik
a.       Keadaan umum
Kesadaran :
Kesan sakit            :
Kondisi umum      :
Mata                      :
Motorik     :
Verbal       :
b.      Tanda-tanda vital
Tekanan darah       :
Nadi                      :
Respirasi                :
Suhu                      :
Berat Badan          :
Tinggi Badan        :
c.       Head to toe
Kepala      :
·         Rambut       :
·         Kulit kepala :
·         Muka           :
·         Mata            :
·         Telinga        :
·         Hidung        :
·         Mulut          :
Leher        :
Thorax      :
·         Paru-paru     : frekuensi napas 35x/menit.
·         Jantung        : irama jantung ireguler, denyut
jantung cepat.
Abdomen  :
Punggung :
Genital      :
Ekstremitas:
Kulit         :
Kuku         :
Postur tubuh:
Pemeriksaan fisik berdasarkan pengkajian sistem pencernaan dan survei umum kemungkinan menunjukkan:
1.      Anus tampak kemerahan
2.      Usus melebar
3.      Kadang-kadang tampak ileus obstruksi
4.      Apabila thermometer dimasukan kedalam anus tidak akan masuk, karena tertahan oleh jaringan.
5.      Apabila di auskultasi terdengar hiperperistaltik

III.II                   Diagnosa Keperawatan

A.    Dx Pre Operasi
1.      Konstipasi berhubungan dengan ganglion.
2.      Risiko kekurangan volume cairan berhubungan dengan menurunnya intake, muntah.
3.      Cemas orang tua berhubungan dengan kurang pengetahuan tentang penyakit dan prosedur perawatan.
B.     Dx Post Operasi
1.      Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan terdapat stoma sekunder dari kolostomi.
2.      Kurang pengetahuan berhubungan dengan perawatan di rumah.

III.III                Intervensi Keperawatan

A.    Diagnosa Pre Operasi
Dx. 1 Konstipasi berhubungan dengan ganglion
Tujuan : Klien mampu mempertahankan pola eliminasi BAB dengan teratur.
Kriteria Hasil :
1.      Penurunan distensi abdomen.
2.      Meningkatnya kenyamanan.
Intervensi :
1.      Lakukan enema atau irigasi rectal sesuai order. R/ Evaluasi bowel meningkatkan kenyaman pada anak.
2.      Kaji bising usus dan abdomen setiap 4 jam. R/ Meyakinkan berfungsinya usus.
3.      Ukur lingkar abdomen. R/ Pengukuran lingkar abdomen membantu mendeteksi terjadinya distensi
Dx. 2 Resiko kekurangan volume cairan berhubungan dengan menurunnya intake, muntah
Tujuan : Klien dapat mempertahankan keseimbangan cairan
Kriteria Hasil :
1.      Output urin 1-2 ml/kg/jam.
2.      Capillary refill 3-5 detik.
3.      Turgor kulit baik.
4.      Membrane mukosa lembab
Intervensi :
1.      Monitor intake – output cairan. R/ Dapat mengidentifikasi status cairan klien.
2.      Lakukan pemasangan infus dan berikan cairan IV. R/ Mencegah dehidrasi.
3.      Pantau TTV. R/ Mengetahui kehilangan cairan melalui suhu tubuh yang tinggi
Dx 3 Cemas orang tua berhubungan dengan kurang pengetahuan tentang penyakit dan prosedur perawatan.
Tujuan : Kecemasan orang tua dapat berkurang
Kriteria Hasil :
1.      Klien tidak lemas
Intervensi :
1.      Jelaskan dengan istilah yang dimengerti oleh orang tua tentang anatomi dan fisiologi saluran pencernaan normal. Gunakan alay, media dan gambar. R/ Agar orang tua mengerti kondisi klien.
2.      Beri jadwal studi diagnosa pada orang tua. R/ Pengetahuan tersebut diharapkan dapat membantu menurunkan kecemasan.
3.      Beri informasi pada orang tua tentang operasi kolostomi. R/ Membantu mengurangi kecemasan klien
A.    Diagnosa Post Operasi
Dx 1 Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan terdapat stoma sekunder dari kolostomi.
Tujuan : Klien tidak ditemukan tanda-tanda kerusakan kulit lebih lanjut.
Intervensi :
1.      Gunakan kantong kolostomi yang baik
2.      Kosongkan kantong ortomi setelah terisi ¼ atau 1/3 kantong
3.      Lakukan perawatan luka sesuai order dokter
Dx 2 Kurang pengetahuan berhubungan dengan perawatan di rumah.
Tujuan : Orang tua dapat meningkatkan pengetahuannya tentang perawatan di rumah.
Intervensi :
1.      Ajarkan pada orang tua tentang pentingnya pemberian makan tinggi kalori tinggi protein.
2.      Ajarkan orang tua tentang perawatan kolostomi.




BAB IV

PENUTUP


IV.I                      Kesimpulan

Dalam istilah kedokteran atresia itu sendiri adalah keadaan tidak adanya atau tertutupnya lubang badan normal atau organ tubular secara kongenital disebut juga clausura. Dengan kata lain tidak adanya lubang di tempat yang seharusnya berlubang atau buntunya saluran atau rongga tubuh, hal ini bisa terjadi karena bawaan sejak lahir atau terjadi kemudian karena proses penyakit yang mengenai saluran itu. Atresia dapat terjadi pada seluruh saluran tubuh, misalnya atresia ani. Atresia ani yaitu tidak berlubangnya dubur. Atresia ani memiliki nama lain yaitu anus imperforata. Jika atresia terjadi maka hampir selalu memerlukan tindakan operasi untuk membuat saluran seperti keadaan normalnya